Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Friday, July 3, 2020

Hal-hal yang Menyakiti anak tanpa kita sadari

Dari diskusi tentang Charlotte Mason kemarin aku menemukan insight bahwa ternyata selama ini banyak orang tua termasuk aku yang tanpa sadar berbuat dzolim kepada anak. Awalnya ku kira dzolim (menyakiti) ini hanya sebatas melakukan kekerasan fisik dan verbal saja, ternyata definisi dzolim menurut CM lebih luas lagi, yaitu dzolim secara moral, fisik, spiritual dan intelektual. Ngeri kaan?

Dzolim secara moral itu yang bagaimana?

Jika anak berbuat kesalahan tapi orang tuanya tidak mengoreksinya saat itu juga, sehingga akan membentuk kebiasaan buruk anak yang nantinya dalam jangka panjang akan terbentuk jadi karakter buruk anak. Biasanya orang tua tidak mengoreksi anak dengan alasan karena anan masih kecil, anak belum paham dll. Padahal ketika tidak segera dikoreksi perilaku buruk tersebut nantinya akan menjadi penghambat dan menyulitkan kehidupan anak kelak. Secara tidak langsung orang tualah yang bertanggung jawab atas terbentuknya perilaku dan karakter buruk anak itu.

Makanya sebisa mungkin ketika anak berbuat kesalahan, segera dikoreksi dan diberikan pemahaman yang benar, tapi cara mengoreksinya harus tetap lembut tapi tegas dan ketika anak tidak sedang di depan orang banyak untuk menjaga harga dirinya.

Yang kedua adalah mendzolimi anak secara fisik, misalnya kita paham benar bahwa anak memerlukan nutrisi yang cukup dan beragam untuk pertumbuhannya, tapi terkadang orang tua malas memasak sehingga hanya memberikan makanan yang simpel-simpel saja (nugget, sosis, telur ceplok) dan akhirnya anak terbiasa makan tanpa sayur dan tidak suka sayur. Terlihat sepele tapi itu melanggar hak anak untuk mendapatkan kecukupan nutrisi.

Contoh lain adalah membiarkan anak hidup dalam lingkungan yang tidak aman dan tidak kondusif sehingga perkembangan fisik anak terhambat atau bahkan membahayakan anak.

Yang ketiga adalah dzolim spiritual, yaitu anak tidak dikenalkan dan didekatkan kepada Tuhannya dengan cara yang baik dan benar. Padahal anak sudah memiliki fitrah untuk mengenal Tuhan, tapi terkadang hal itu justru dimatikan oleh orang tua karena orang tua abai atau salah dalam memilih cara dalam mengenalkan Rabbnya. 

Contohnya bagaimana? Ketika anak tidak mau sholat dan orang tua membiarkan saja, dengan dalih nanti kalau dewasa akan tumbuh sendiri kesadarannya, tapi apakah benar begitu? padahal sholat itu harus dibiasakan dan sangat prinsipil agar anak tidak merasa berat saat menjalankannya. Dalam hadist pun sudah dijelaskan bahwa orang tua boleh bertindak tegas ketika anak enggan melakukan sholat saat usianya sudah mencapai tujuh tahun. Atau orang tua menganggap anak masih terlalu kecil untuk diajak berdiskusi tentang Allah, sehingga masa kecilnya terlewat begitu saja tanpa mengenal Allah.

Atau kesalahan lain dalam proses mengenalkan Allah ke anak adalah dengan meminta anak menghafalkan doa-doa dan ayat-ayat yang kering, anak hanya menghafal tanpa dijelaskan maknanya, lalu bagaimana anak bisa faham dan bisa meresapi apa yang dibacanya? Jika anak tidak dapat memahami makna doa dan firman Allah, lalu bagaimana anak akan mengenal Tuhannya?

Yang terakhir adalah dzolim intelektual, ketika orang tua tidak memberikan stimulasi otak yang cukup pada anak, orang tua abai terhadap pendidikan anak dan juga membiarkan anak melakukan hal yang merusak otak misalnya kecanduan gadget, game, pornografi dan narkoba. 

Yang pelu selalu kita ingat adalah bahwa anak bukanlah milik kita yang bisa kita perlakukan suka-suka kita, mereka adalah titipan Allah yang harus kita jaga dengan baik dan serius. Maka dari itu orang tua tidak boleh berhenti belajar agar dapat menjaga amanah Allah dengan sebaik-baiknya.
0

Monday, June 29, 2020

Kenapa anakku nggak mau dengerin omonganku?

Masih ngomongin soal kepatuhan anak pada orang tua nih, karena menurutku ini hal baru buatku dan penting banget dipelajari polanya oleh orang tua. Nggak sedikit orang tua yang mengeluhkan bahwa anak-anak mereka makin gede makin susah diatur, makin nggak denger omongan orang tuanya, padahal apa benar bahwa perubahan sikap menjadi "nggak nurut" itu terjadi hanya karena mereka sudah makin besar?

Ku rasa enggak, karena banyak faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan anak, bisa jadi semakin besar anak akan semakin cerdas sehingga semakin kritis dalam menanggapi perintah atau nasihat orang tua, akan tetapi serharusnya itu tidak mempengaruhi terhadap kepatuhan anak jka dari awal orang tua konsiten dan memberikan pemahaman bahwa kita melakukan ini karena benar dan harus.

Misalnya tentang screen time anak, jika orang tua memberikan screen time 30 menit per hari dan konsisten melakukannya, maka percaya deh nggak akan ada drama anak merengek-rengek atau nagis minta tambahan waktu nonton. Karena dari awal anak sudah paham bahwa waktunya hanya 30 menit dan itu untuk kebaikannya karena ia tahu bahwa anak harus lebih banyak bergerak, bermain di luar rumah dan mengeksplore lingkungan. Dan anak juga tahu bahwa meskipun mereka merengek dan nangis kejer, orang tuanya tidak akan memberi tambahan waktu karena mereka konsisten dan tegas dengan jadwal screen time.

Contoh lain, anak yang memasuki usia remaja rajin sekali sholat lima waktu, setiap kali mendengar adzan ia bergegas mengambil wudlu dan sholat. Ternyata sejak usia tujuh tahun orang tuanya selalu membiasakan untuk sholat tepat waktu, bukan karena orang tuanya galak, tapi karena orang tuanya memberi contoh dan memberi pemahaman kepada anak bahwa ibadah yang paling utama adalah sholat di awal waktu, dan Allah menyukai orang-orang yang bersegera ketika mendengar panggilan sholat.

See? sebenarnya kepatuhan anak bukan hanya karena anak masih polos dan nurut sama orang tua, sedangkan jika anak semakin besar dan semakin cerdas maka ia akan menajadi tidak patuh. Nope, anak-anak tidak serendah itu, mereka adalah individu yang cerdas dan cermat sekali dalam mengamati pola. Mereka dapat memahami alasan mengapa ia harus melakukan sesuatu, mereka juga teliti dalam melihat pola perilaku orang tuanya sehingga mereka memiliki kesimpulan dan cara pandang tertentu.

Maksudnya gimana sih?

gini..gini.. ketika remaja yang rajin sholat tadi melakukan sholat tepat waktu hanya karena takut pada perintah orang tuanya, maka saat ia di luar rumah mungkin ia akan mengabaikan panggilan adzan dan menunda sholat, tapi jika ia paham bahwa keutamaan ibadah adalah sholat di awal waktu maka ia tetap melakukan sholat tepat waktu dimanapun ia berada. Demikian juga ketika ia melihat orang tuanya konsisten melakukan sholat diawal waktu, ia membaca pola dan menarik kesimpulan bahwa memang menyegerakan sholat adalah bukan hal remeh yang bisa diabaikan, buktinya orang tuanya selalu memprioritaskan waktu sholat diatas pekerjaan-pekerjaannya. 

Beda cerita jika anak melihat orang tuanya sering menunda waktu sholat, maka anak pun akan mengambil kesimpulan bahwa sholat di awal waktu tidak menjadi prioritas penting, yang penting menunaikan sholat, nggak harus di awal waktu, sholatnya mepet-mepet di akhir waktu pun nggak masalah. Meskipun anak paham bahwa ibadah yang paling utama adalah sholat di awal waktu tapi anak tidak melihat kesesuaian itu pada pola jadwal sholat orang tuanya, ya anak nggak akan menganggap bahwa sholat di awal waktu adalah hal yang perlu diprioritaskan.

Menurut Charlotte Mason, ketika orang tua tidak patuh terhadap aturan dan tidak konsisten, maka ibaratnya ia sedang meletakkan batu sandungan yang nantinya akan menghalangi anak untuk disiplin dan patuh terhadap panggilan (perintah) orang tuanya. Semakin banyak orang tua abai pada aturan, maka semakin banyak batu sandungannya.

Soo... jika kita merasa "kok anak gue nggak mau denger omongan gue? harus adu mulut dulu baru mau nurut", nah.. coba deh cek pola yang diterapkan orang tua di rumah, jangan-jangan selama ini kita kurang konsisten terhadap aturan-aturan yang ada, atau kita termasuk orang tua yang moody , ketika kita happy kita akan disiplin, tapi ketika bad mood kita jadi abai sama aturan-aturan, yaudahlah biarin aja makan nggak pakai sayur soalnya lagi males masak, yaudahlah biarin nonton gadget aja daripada berisik, dan banyak yaudahlah yaudahlah lainnya yang akhirnya akan menjadi batu sandungan anak untuk nurut sama orang tua. *lagi ngomongin diri sendiri ya, Fit? hahahah

Well, memang menjadi ibu itu harus terus belajar dan nggak boleh moody, jadi orang tua itu berat karena anak adalah amanah Allah yang harus dijaga dan hadiahnya syurga. kalau mau yang gampang-gampang aja nanti hadiahnya pulsa. Kalau cuma mau pulsa, ya mendingan ikutan giveaway aja, ngapain susah-susah jadi orang tua, ya khaaan~~~~ 



0

Monday, June 22, 2020

Membangun kepatuhan seharusnya bukan dengan mempermainkan

Semakin banyak belajar maka akan semakin banyak penyesalan, mungkin itu istilah yang cocok buatku. Menyesalnya bukan karena banyak belajar dan capek, tapi menyesal kenapa nggak dari dulu belajar banyak hal agar nggak salah langkah dalam mengasuh anak. 

Seperti halnya minggu lalu saat belajar tentang 20 butir filosofi Charlotte Mason, rasanya setiap poin yang dipelajari seolah mengoreksi cara pengasuhanku pada anak-anak. Tapi ada beberapa hal yang menjadi highligt dan bener-bener nancep di ingatan, yaitu dalam proses membangun ketaatan anak kepada orang tua, orang tua nggak boleh mempermainkan rasa takut, rasa cinta, kharisma dan hasrat alamiah anak


Yang pertama, mempermainkan rasa takut dengan mengancam, misalnya "kalau nggak mau makan, mama tinggal pergi nih". Memang ancaman itu cara yang paling gampang untuk membuat anak patuh, tapi sebenarnya itu berbahaya buat anak. Ancaman hanya akan efektif dalam jangka pendek, nanti seiring bertambahnya umur, level ancaman akan semakin naik seiring dengan kecerdasan anak. Kalau umur 3 tahun nurut saat diancam mau ditinggal, nanti umur 5 tahun suda tidak akan mempan lagi, dan biasanya orang tua akan menaikkan level ancaman, misalnya nggak akan dikasih uang jajan atau dihapus jam nontonnya. Tapi yang paling parah, anak-anak yang terbiasa diancam akan terbentuk menjadi anak-anak yang suka mengancam juga. "Kalau mama nggak mau beliin mainan itu, aku besok nggak mau sekolah" see? persis banget dengan ancaman yang selama ini kita sampaikan ke anak-anak.

Kedua, mempermainkan rasa cinta, ketika anak tidak mau bersalaman dengan tamu misalnya, lalu orang tua bilang "kamu itu nggak sayang sama mama, mama kan malu kalau anaknya nggak sopan, kamu nggak kasian sama mama?". Jadi sikap penolakan terhadap permintaan akan dianggap sebagai betuk rasa tidak sayang, sehingga pada akhirnya nanti anak akan kesulitan untuk untuk mengungkapkan keinginannya dan perasaannya. Anak akan berpotensi menjadi "people pelasure" yang sulit menemukan jati diri dan sangat bergantung pada penilaian orang. Dan yang mengkhawatirkan adalah saat remaja, anak-anak ini akan kesulitan untuk menolak ajakan teman-temannya untuk melakukan hal negatif, misalnya memakai obat-obatan. Juga saat mereka pacaran akan kesulitan untuk menjaga diri karena tidak bisa tegas menolak ajakan pasangan dengan kekhawatiran jika ia menolaknya maka akan dianggap tidak mencintai pasangannya.

Ketiga, mempemainkan kharisma, hal ini biasanya berkaitan dengan orang-orang yang dikagumi dan disegani oleh anak misalnya guru dan ayah. Mempermainkan kharisma ini contohnya dengan memberikan perintah dengan mengatasnamakan orang yang disegani atau dikagumi, atau mempermainkan dengan ancaman jika anak tidak melakukan perintah orang tua maka akan diberitahukan kepada guru atau ayahnya.

Keempat, mempermainkan hasrat alamiah anak, mislanya anak yang kompetitif akan menjadi semangat mengikuti perintah jika diberikan pujian-pujian dan kemenangan. Hal ini sepertihalnya memberikan makanan manis atau coklat pada anak, anak akan lahap dan makan dengan cepat tapi untuk jangka panjang tidak akan berdampak buruk pada anak.

Orang tua memang memiliki otoritas pada anaknya tapi orang tua juga harus menghargai kepribadian anak. Jika anak diberikan pengertian bahwa hal ini baik atau buruk, anak akan memahaminya, karena anak itu adalah pribadi yang utuh yang dapat berfikir. Jadi ketika kita ingin anak melakukan hal yang kita perintahkan, harus dijelaskan mengapa ia harus melakukan itu, bahwa ini prinsip, bahwa hal ini baik, bahwa itu bahaya, jadi anak akan mengikuti perintah orang tua karena dia paham alasannya, bukan hanya sekedar takut atau sungkan. 

0

Sunday, May 31, 2020

Teko dan Cangkir


Aku pernah baca sebuah kalimat bahwa teko yang diisi air kotor maka akan menuangkan air kotor juga pada cangkir-cangkirnya. Dan teko itu adalah otang tua sedangkan cangkir itu adalah anak-anaknya. Ketika keseharian orang tua diisi dengan pertengkaran dengan pasangan, konflik dengan orang tua/mertua atau kekacauan ekonomi dalam keluarga maka nggak heran kalau mereka jadi mudah marah kepada anak-anak. Tingkah laku anak-anak yang bisa jadi adalah tingkah yang lucu menurut orang lain, bahkan bisa menjadi pemicu kemarahan orang tuanya sendiri. Ya, air jernih itu berubah menjadi air kotor juga saat masuk ke dalam teko yang berisi air kotor.

Lalu harus bagaimana? ketika orang tua tidak bisa menghindari konflik dalam keluarganya, apakah selamanya ia akan menjadi orang yang pemarah?

Tentu tidak, karena jika kita tidak bisa merubah/mengontrol kondisi di sekitar kita, tapi kita punya kuasa untuk mengontrol sikap kita. Caranya bagaimana? yaitu dengan memasang saringan pada teko. 

Saringan itu nantinya akan menjadi filter sikap orang tua kepada anak, seburuk apapun kondisi yang dialami, orang tua punya kuasa untuk memberikan sikap yang baik kepada anak-anak. Karena anak-anak tidak bersalah, mereka tidak paham dengan kondisi yang terjadi, jadi tak seharusnya mereka menjadi pelampiasan kemarahan orang tuanya.

Kebayang nggak sih, gimana bingungnya anak-anak saat mereka bertanya dengan polosnya "Mama, kenapa papa belum pulang?" , tapi karena mamanya sedang ada konflik dengan suaminya dan sedang emosi, ia menjawab dengan nada tinggi "tanya sendiri sana sama papamu kenapa dia nggak pulang!" Sedih banget kan jadi anaknya, nggak ngerti apa-apa tapi selalu kena pelampiasan kemarahan mamanya.

Lalu bagaimana cara memasang "saringan" agar hal negatif yang dialami orang tua tidak mengalir pada anak-anaknya?

Pertama, saat marah menghindarlah sesaat, sebisa mungkin yang bisa dilakukan, boleh masuk kamar mandi, boleh menangis di kamar, atau menitipkan anak pada saudara sebentar. Berilah waktu untuk diri untuk menenangkan diri, jangan biarkan amigdala terus menerus dibajak sehingga menghasilkan respon negatif dan emosional, berilah waktu pada otak untu berfikir rasional.

Kedua, gunakan the power of "bagaimana perasaanku jika aku diposisinya?", biasanya langkah kedua ini efektif banget buat "menabok" diri agar segera sadar dari sikap/respon yang kurang tepat kepada anak-anak. Bisa juga dengan melakukan flashback ke masa kecil, oh dulu waktu aku dibentak sama Papa rasanya nyesek banget lho, dulu pas orang tuaku nggak menepati janji rasanya kecewa sekali, dan pengalaman-pengalaman lain yang tidak ingin kita ulang kepada anak-anak. Jadi sebenarnya,bukan tanpa alasan Allah memberikan kita kesempatan menjadi orang tua setelah kita melewati tahap menadi seorang anak terlebih dahulu, agar kita bisa belajar dan menimbang rasa bagaimana kita dulu ingin diperlakukan sebagai anak dan bagaimana saat ini kita ingin memerlakukan anak ketika menjadi orang tua.

Well, sekali lagi orang tua adalah manusia berdaya yang punya kuasa atas dirinya, mereka memiliki kemampuan dan pilihan untuk bersikap seperti apa dan bagaimana mendidik anak-anaknya. Jika ingin anak-anak tumbuh menjadi manusia yang lebih baik maka orang tua harus berusaha lebih keras untuk menjadi versinya yang lebih baik, orang tua yang memberikan hanya hal-hal baik kepada cangkir-cangkir (anak-anak) kecilnya.
0

Friday, May 29, 2020

Bercanda itu harusnya menyenangkan, bukan bikin sedih atau malu



Siang itu aku jemput kakak Binar dari sekolahnya, setelah main di play ground sebentar, kami pulang ke rumah. Biasanya Binar membawa tasnya sendiri dengan digendong di punggung, tapi kali ini tasnya ditaruh di gantungan motor di bagian depan. Setelah jalan beberapa meter dari sekolah dia nanya

"bunda, tas kakak tadi mana? bunda bawa ya?"

Entah kenapa kok aku tiba-tiba kepikiran buat ngisengin Binar, lalu ku jawab dengan lempeng

"Enggak, tadi kakak bawa kan? apa ketinggalan di play ground?"

dia dengan panik menjawab

"enggak bunda, kakak nggak bawa, coba lihat di depan ada apa enggak?

aku jawab iseng lagi

"nggak ada kak, apa jangan-jangan tadi jatuh?"

dan sepanjang jalan dia bingung dan khawatir, dia sediih karena tas barunya nggak ada. Mungkin sepanjang jalan dia cemas memikirkan dimana tasnya.

Lalu sesampainya di rumah, dia turun dari motor dan melihat tasnya ada di depan, di gantungan motor tertutup gamisku. Seketika tangisnya pecah

dia sediiiih dan keseeeeeel banget.

Aku nggak nyangka responnya bakal sesedih ini, kupikir kan ini cuma bercanda (jangan dicontoh ya gaes).

Lalu aku minta maaf ke dia yang masih nangis sesenggukan "maafin bunda ya kak, bunda tadi cuma bercanda"

lalu sambil terisak dia bilang

"bunda, bercanda itu harusnya bikin happy, bukan bikin sedih, itu namanya bukan bercanda, kakak nggak suka dibohongin!"

ya Allah, berasa ditabok halo balita sepaket ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­

mungkin dia keseeeel banget kenapa bundanya yang dia percaya kok malah bohong ke dia, maaf ya kak.. bunda janji nggak akan ngprank lagi huhuhuhuhu

Dalem hati emaknya istighfar mulu, kok bisa-bisanya kepikiran ngerjain anak sendiri. Dari sini aku dapet insight bahwa nggak ada yang suka dikerjain, nggak ada yg suka dibohongin, apapun alasannya, apapun tujuannya.

Jadi para kakak-kakak youtuber plis jangan kasih konten tentang prank lagi ya, mungkin banyak Binar-Binar di luar sana yang merasa kesal dengan prank teman-temannya tapi nggak berani speak up karena bakal dianggap BAPER.

0

Sunday, November 4, 2018

Adakah Gejalanya Pada Anak Anda?

Coba perhatikan moms, anak yang sering menonton tv, gadget, video biasanya akan mengalami beberapa hal berikut:

- Sulit berkonsentrasi saat belajar/membaca
- Perlu beberapa kali panggilan untuk membuatnya menengok saat menonton tv
- Mudah marah saat gadget rusak/loadingnya lama
- Lebih suka main dengan gadgetnya daripada main di luar bersama teman-teman
- Gampang sekali bosan dengan mainan yang tidak bergerak
- Tidak suka menunggu proses/tidak sabaran
- Mudah frustasi saat mainannya rusak
- Akan sangat rewel jika bepergian tanpa membawa gadget
- Mata merah dan berair
- Mengalami keterlambatan bicara karena sering menonton tv karena tidak ada komunikasi 2 arah

Jika ada 3 saja gejala diatas yang terdapat pada anak-anak kita, sebaiknya segera kurangi pemakaian gadget/tv. Alihkan ke hal lain seperti olahraga, explore lingkungan atau membaca buku.

Parents, kendali ada ditangan kita dan kita lah yang memilih.

Fitrina Kamalia

0

Saturday, November 3, 2018

Ini Yang Aku Takutkan

Ini yang aku takutkan...
Wujudku ada tapi tak bisa mengobati rasa sepinya

Ini yang aku takutkan...
Aku ada disampingnya tapi aku hanya sibuk dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya

Ini yang aku takutkan...
Dia punya ibu tapi tak punya figur hangat yang punya waktu untuk bermain bersamanya.

Ini yang aku takutkan...
Saat mataku terfokus pada layar hp saja, sedangkan disaat yang sama anak-anak sedang menunjukkan hasil karya mereka, dan akupun melewatkannya begitu saja.

Ini yang aku takutkan...
Tenagaku yang habis terkuras untuk bekerja membuat emosiku mudah tersulut oleh rengekan manjanya.

Dan satu hal yang paling aku takutkan...
Saat aku menyadari, jika aku tak bisa berubah mungkin saja suatu saat kehadiranku tak kan lagi diharapkannya.

Fitrina Kamalia


0

Wednesday, October 31, 2018

Harusnya Semua Anak Punya Ayah

Entah kenapa selalu ada rasa yang berbeda saat menyebutnya, panggilan ayah atau bapak yang tak pernah kulafalkan, terasa asing, dan berat. 

Mungkin karena aku tak menemukan sosoknya dalam kehidupanku, sehingga tak ada bayangan yang jelas bagaimana rasanya jatuh cinta pada lelaki yang harusnya menjadi cinta pertamaku. 
Atau mungkin karena aku tak ingin membuat ibuku bersedih dengan terus menanyakannya, sehingga seribu tanya kusimpan rapat dalam hati kecilku saja.
Ya, karena aku menyimpannya, dalaaam sekali, sampai-sampai aku tak pernah menyebutnya, dan aku pura-pura bahagia. Aku bahagia memiliki ibu saja, tapi sebenarnya aku sadar, itu hanya kalimat penghibur untuk hati gadis kecil yang lara.

Bukankah, seharusnya aku punya ayah? seperti anak kecil lain yang bahagia dengan setumpuk cerita tentang ayahnya, yang pergi jalan-jalan dengan dibonceng motor keliling kota, atau sekedar mereparasi sepedah yang lepas rantainya.
Iya, aku selalu sedih setiap kali membetulkan rantai sepedahku yang lepas, aku iri kenapa tidak ada sesosok laki-laki yang membantuku mereparasi, seperti anak perempuan lain yang tinggal tunjuk dan bilang "ayah, sepedah ku rusak, tolong diperbaiki".

Seharusnya semua anak perempuan punya ayah, yang menjadi tempat mengadu saat ada anak laki-laki nakal yang mengusili, yang menjadi rujukan bagaimana seharusnya seorang laki-laki, agar anak perempuannya memiliki figur dalam memilih suami.
Dan aku lagi-lagi diam, berusaha memendam dalam semua aduan, menyimpan sendiri ditempat paling sunyi di dalam diri. Melewati masa remaja dengan cukup berat karena tak memiliki konsep laki-laki dan perempuan secara tepat, tumbuh menjadi gadis tomboy tapi rapuh, menjadi pribadi yang dominan tapi cengeng.

Pun, semua anak laki-laki harusnya memiliki ayah, tempat mereka belajar bagaimana cara mengganti ban mobil sampai dengan apa saja tanggung jawab yang harus mereka ambil. Agar sang anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang kuat, memiliki sikap dan tahu bagaimana memperlakukan istri dan dan anak.
Bukankah banyak sekali para laki-laki yang kebingungan dalam mencari jati diri, bertingkah bak pragawati sampai pada melencengnya orientasi.

Yaaa, seharusnya semua anak memiliki ayah, agar anak bisa tumbuh sesuai dengan fitrahnya, menjadi pribadi yang seimbang dan tak rancu dalam pembagian peran.

Memiliki ayah bukan hanya cukup dengan wujudnya, yang setiap hari ada disisi kita, tapi yang lebih penting adalah perannya, menjadi panutan sekaligus teman, dan menjadi super hero yang siap memberikan perlindungan.

Tapi mungkin Allah terlalu sayang dengan ayah, sehingga memanggilnya lebih cepat, dan mungkin juga benar bahwa "Good man dies young".
Aku sangat menghormati dan mengapresiasi keputusan ibu untuk memilih menjadi single parent, memilih fokus untuk membesarkan anak-anaknya meskipun tak mudah. Tapi aku juga sadar bahwa masih ada luka yang menganga, masih ada kerinduan yang tak tersapa dan masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi, ya... Dialah sosok seorang ayah bagi keempat anak-anaknya.

Wahai para ibu hebat, menjadi single parent memang tak pernah diimpikan oleh setiap perempuan, tapi kadang pernikahan memang tak seindah angan. Tapi, jika kesendirianmu merupakan pilihan, janganlah menutup hati untuk pernikahan lain yang lebih membahagiakan. Karena ada hati yang harus kau jaga, ada kebutuhan sosok ayah yang harus kau penuhi, agar anak-anakmu tumbuh menjadi manusia yang sempurna.

Bukannya aku mengajari untuk tak setia, bukan pula menodai syakralnya cinta pada pernikahan, tapi sekali lagi, ada kewajiban yang harus ditunaikan, mendidik anak secara utuh agar mereka tak pincang dan yang terpenting ada kebutuhan cinta seorang ayah yang terpenuhkan.

Fitrina Kamalia


0

Sunday, October 28, 2018

Bunda Beri Aku Waktu..

"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"

"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "

"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"

"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"

***

Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...

Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.

Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..

Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.

Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.

Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.

Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.

Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"

"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.

Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.

Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..

Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..

Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "

Maafkan bunda nak.. ðŸ˜§ðŸ˜§

*hening

~Fitrina Kamalia
"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"

"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "

"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"

"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"

***

Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...

Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.

Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..

Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.

Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.

Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.

Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.

Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"

"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.

Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.

Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..

Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..

Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "

Maafkan bunda nak.. ðŸ˜§ðŸ˜§

*hening

~Fitrina Kamalia
"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"

"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "

"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"

"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"

***

Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...

Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.

Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..

Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.

Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.

Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.

Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.

Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"

"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.

Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.

Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..

Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..

Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "

Maafkan bunda nak.. ðŸ˜§ðŸ˜§

*hening

~Fitrina Kamalia
"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"

"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "

"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"

"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"

***

Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...

Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.

Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..

Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.

Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.

Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.

Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.

Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"

"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.

Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.

Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..

Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..

Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "

Maafkan bunda nak.. ðŸ˜§ðŸ˜§

*hening

~Fitrina Kamalia



0

Friday, October 26, 2018

Siapa yang ngajarin?


Beberapa hari yang lalu saya agak terkejut dengan tingkah Radea (1y2m) yang tiba-tiba saja bisa menirukan ekspresi marah saya.


Saat pengasuhnya bilang " gimana muka galak dek? " 
Dengan sigap dia menajamkan mata sambil agak menunduk, melihat ke arah saya sambil "mentheleng" . Hahaha
Meskipun lucu, tapi saya yakin ada something wrong dari sikap saya.

Hampir saja saya spontan mau nanya ke Radea siapa yang ngajarin dek?
Tapi sebelum saya sempet nanya saya langsung mikir, kalau bukan dari saya, dari siapa lagi dia menirunya?
Saya coba mengingat-ingat, pernah saat gigi atasnya tumbuh, dia memang hobi banget menggigit, karena mungkin gusinya sedang gatal.
Dan beberapa kali dia menggingit saya saat sedang menyusui, sekali saya bilangin pelan-pelan, kedua masih tahan, sampai ketiga saya agak marah sambil menegurnya "adek, nggak boleh gigit, bunda sakit", tapi saat itu saya tidak sadar bagaimana ekspresi marah saya.

Dan benar saja, anak memang sang peniru ulung! Dengan mudahnya dia meniru segala hal yang orang tuanya lakukan, ekspresi wajah, cara berbicara, cara makan, sampai dengan cara berfikir.

Lalu, saat anak sedang melakukan hal yang kita anggap "nakal" dengan entengnya kita nanya "siapa sih yang ngajarin?" itu sih namanya buruk rupa cermin dibelah cyyn..

Kalau kita mau sebentar saya memikirkan, apa yang salah dengan sikap saya? Apa yang salah dengan perkataan saya? Apa yang salah dengan cara mendidik saya? Mungkin tidak akan ada drama emak yang marah-marah dan anak nangis sesenggukan.

Seperti halnya saat foto selfie, saat melihat hasilnya kok kurang bagus, oh ternyata setelah di cek ternyata jilbabnya agak miring, angelnya nggak pas, senyumnya kurang manis dsb, benerin dulu jilbabnya, benerin dulu posisinya, bukannya malah memaki-maki hp karena hasilnya nggak sesuai ekspektasi kan?

Begitu pula dengan anak, saat dia melakukan kesalahan kecil, mungkin dia tidak sadar bahwa ia hanya "ikut-ikutan",

ngikutin siapa? Ya orang-orang disekitarnya, kita... Orang tuanya..

Makanya saya setuju banget, bahwa menjadi orang tua itu bukan hanya soal bagaimana membentuk karekter anak yang baik dengan belajar ilmu parenting segala madzhab, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membenahi diri menjadi lebih baik untuk menjadi contoh figur yang baik untuk anak-anak.

Taukah ibu...
Seorang anak perempuan yang memiliki ayah yang hebat akan mencari calon suami yang mirip dengan ayahnya, atau minimal dia akan memiliki standar lelaki ideal seperti ayahnya.

Begitu juga anak laki-laki, saat memilih istri dia akan memilih kriteria perempuan yang mirip dengan ibunya.

See? Betapa besar peran kita dalam membentuk karakternya, betapa besar kita berpengaruh dalam kehidupannya.

Mendidik dengan memberi contoh yang baik akan jaaaauh lebih efektif daripada mengomel dan menasehati panjang lebar.
Karena mata akan lebih cepat melihat seperti halnya petir yang lebih dahulu bercahaya sebelum terdengar gelegar suaranya meskipun keduanya terjadi bersamaan


Fitrina Kamalia
0

Thursday, October 25, 2018

Ternyata Ibu Benar


Bu, dulu aku sangat risih saat ibu terus saja menyuruhku makan karena khawatir aku sakit jika makanku tak teratur. 

Tapi sekarang aku baru tau rasanya kekhawatiranmu, saat aku mengahdapi anakku yang selalu menolak saat kusuapi. 

Bu, dulu aku jengkel saat ibu selalu menanyakan sudahkah aku sholat tepat waktu.

Padahal ibu hanya memastikan bahwa ilmu agama yang kau bekalkan terus tertanam di hati dan perilaku ku.

Bu, dulu kupikir ibu tidak menyayangiku saat menyuruhku untuk melakukan apapun sendiri tanpa kau bantu. Ternyata diam diam ibu ingin melatih agar aku tidak manja dan bisa survive dengan kemandirianku.

Dan lagi-lagi ibu benar, hidup berumahtangga jauh darimu menuntutku untuk mandiri dan multitalenta. Tak bisa kubayangkan betapa sulitnya kehidupanku saat ini jika dulu aku hanya bisa merajuk dan mengandalkanmu.

Bu, dulu aku marah saat ibu ingin tahu dengan siapa saja aku berteman,

Tapi sekarang aku tahu itulah caramu melindungiku dari pengaruh buruk lingkungan yang merusakku, seperti saat ini aku melindungi anak-anakku dari pengaruh zaman yang semakin gila.

Bu, saat aku sudah menikah pun ibu masih bertanya apakah aku sudah makan atau belum?

Karena sebarapa banyakpun bilangan umur anakmu ini, aku tetap menjadi gadis kecilmu.

Dan bu..
Ternyata semua yang ibu katakan itu benar..
Dan aku baru menyadarinya saat aku telah menjadi orang tua
Rasa lelahmu saat mengadung
Rasa sakitmu saat melahirkan
Rasa ngantukmu saat aku rewel
Rasa cemasmu saat aku sakit
Rasa kecewamu saat aku berbohong
Rasa banggamu saat aku berani tampil di depan kelas
Rasa sayangmu yang tak pernah kunjung habis meskipun aku pergi dari rumah untuk membina keluarga bersama orang yang kupilih.

Ibu, sekarang aku tau semuanya...
Dan aku semakin mencintaimu...
Maafkan aku bu..

Fitrina Kamalia 
0

Monday, July 10, 2017

BAHAYA LABELING

Suatu ketika saya keceplosan menegur si Kakak dengan sebutan nakal saat dia memukul adiknya karena rebutan mainan, “ Kakak jangan nakal dong sama adek, mainnya sama-sama ya, jangan rebutan”

Ternyata hal sepele itu berbuntut panjang, si adek mengenal konsep nakal dari omongan saya, jadi setiap kakaknya merebut mainan atau memukul dia mengadu ke saya : “Bunda, kakak akal!”

Jlebbb..!!

Pun tak kalah gawat efeknya pada si kakak, saat adiknya nangis, dia sontak bertanya kepada saya, “Bunda, kakak nakal ya?”
Kemudian saya langsung memeluknya, “enggak kak, kakak baik sama adek, kakan sayang sama adek”, lalau saya berikan pengertian bahwa merebut mainan itu tidak baik, dan saya berikan contoh bagaimana meminjam mainan dengan baik kepada adiknya.

Ya Allah, astaghfirullah…

Saya tidak bisa menjaga mulut saya dengan baik, ternyata keceplosan seremeh itu berakibat sangat buruk. Kesan nakal itu begitu di ingat oleh Binar karena saya pernah menyebutnya nakal, bukannya justru memperbaiki keadaan tapi malah menimbulkan sikap negatif lain pada si bungsu saya. Dia merasa menjadi “anak nakal” tiap kali adiknya nangis, padahal seringkali adiknya juga yang membuat kesalahan terlebih dahulu.

Belajar dari pengalaman itu, sekarang saya sangat berhati-hati dengan labeling, karena apa yang kita labelkan ke anak akan disimpan baik-baik dalam memorynya, semakin lama semakin mengendap menjadi karakter tetap dalam dirinya. Terutama pada usia 1-5 tahun, dimana kebutuhan pang besar anak adalah rasa aman dari keluarganya untuk membangun konsep diri dan rasa berharga, apa jadinya jika anak justru mendapat labeling negatif, bullying dan penolakan dari keluarganya sendiri?
Semakin jauh saya berfikir, tentang anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang kasar, setiap kali melakukan kesalahan selalu di maki dengan sebutan “anak setan”, “brengsek” , “nggak tahu diri”, “dasar anjing” dan cacian lainnya, tak heran jika mereka bertumbuh menjadi apa yang dilabelkan kepada mereka.

Jikapun dulunya kita adalah anak-anak yang dibesarkan dengan label negatif oleh orang tua kita, mari kita stop sampai di diri kita, tidak perlu kita teruskan bahkan diwariskan ke anak dan generasi kita.
Saat saya kecil dulu, saya biasanya dipanggil unyil karena saya berbadan kecil, saya tahu itu adalah panggilan kesayangan dari saudara saya, tapi tanpa saya sadari sampai saat ini saya selalu merasa berbadan kecil meskipun berada bersama orang yang lebih mungil dari pada saya, karena dalam pikiran saya, Fitrina itu kecil.


Moms, melabeli dengan label negative itu tidak dibenarkan, apapun alasannya, baik untuk panggilan sayang, bercanda maupun peringatan saat anak melakukan kesalahan. Karena, labeling itu seperti halnya doa yang terus di ucapkan, yang suatu saat akan terwujud seperti apa yang di labelkan. 
0

Wednesday, August 10, 2016

JIKA ANAK MELIHAT ORANG TUA BERHUBUNGAN INTIM

"kamu nanti kalau udah gede mau jadi apa?" tanya seorang guru TK

"mau jadi polisi"

"wah bagus dong,  emang kenapa pilih jadi polisi?"

"soalnya mau nembak bapak"

Sontak si ibu guru kaget mendengar jawaban anak,  dan setelah di dalami lebih lanjut ternyata anak tersebut marah kepada ayahnya karena tidak sengaja melihat ayahnya berhubungan badan dengan ibunya.  Si anak yang belum mengerti tentang konsep hubungan suami istri dan mengira bahwa si ayah sedang menyakiti ibunya,  dan mungkin orang tuanya tidak dapat menjelaskan dengan benar saat anak ingin tahu atau bertanya tentang apa yang mereka lakukan.

***

Memang terkadang sangat konyol saat anak memergoki orang tua yang sedang berhubungan intim,  maka usahakan untuk tidur terpisah kamar dengan anak pada saat anak sudah mulai bisa berpura-pura tidur.  Jika anak belum mau pisah kamar,  maka orang tua lah yang harus mengalah untuk pindah kamar saat berhubungan intim.  Jika berpisah kamar juga tidak memungkinkan karena kondisi tempat tinggal yang terbatas misalnya kos atau kontrakan yang tidak memiliki kamar lain,  maka sebaiknya orang tua mencari waktu yang tepat saat anak-anak sedang benar-benar tertidur dan usahakan menutup badan dengan selimut.
Karena,  jika anak secara tidak sengaja melihat orang tuanya berhubungan intim,  akan mengakibatkan efek buruk bagi psikologis anak,  diantaranya:

- anak marah kepada orang tua karena belum paham tentang konsep hubungan suami istri
- anak merasa jijik karena melihat sesuatu yang bertentangan dengan value yang diajarkan kepadanya
- anak menjadi penasaran,  ingin tahu dan ingin mencoba, ini yang berbahaya!
- anak menjadi kehilangan konsentrasi karena ingatan tentang hubungan intim tersebut mengacaukan    pikirannya.
- jika anak melihat hubungan intim pada usia diatas 3 tahun,  maka besar kemungkinan dia akan      teringat kejadian itu sepanjang hidupnya.


Gambar diambil dari sini


Lalu bagaimana jika anak sudah terlanjur melihatnya?

- jika anak memergoki ayah dan ibu berhubungan intim,  yang terpenting adalah jangan panik.
- jelaskan pada anak bahwa ayah dan ibu perlu waktu untuk berdua saja,  nanti ibu dan ayah akan      menyusul lagi ke kamar.
- katakan pada anak: "sayang,  maaf ya kalau ayah dan ibu tadi membuatmu takut,  ibu tidak apa-apa kok"
- jika anak bertanya tentang apa yang sedang dilakukan, maka sebaiknya dijawab bahwa karena ayah sayang sama ibu,  makanya ayah peluk ibu, jika anak sudah cukup puas dengan jawabannya maka cukupkan penjelasan.  Jika anak masih bertanya lagi "kenapa tidak pakai baju? ",  maka jelaskan bahwa ayah sayang sama ibu,  ayah dan ibu tidak pakai baju karena agar ibu dekat sama ayah,  dan itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa,  oleh ayah dan ibu yang sudah menikah.  Meskipun pada usianya belum tahu konsep menikah, tapi setidaknya dia akan terus mengingat bahwa hubungan intim yang dilihatnya itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang sudah menikah, insyaAllah dia akan paham pada waktunya.
- jangan memberikan jawaban bohong pada anak,  misalnya ayah lagi main kuda-kudaan,  atau ayah dan ibu lagi kegerahan makanya buka baju,  mungkin itu akan menjadi solusi sementara untuk orang tua,  tapi tidak untuk solusi jangka panjang,  karena anak akan terus mengingat kejadian ini.
- ajarkan anak untuk bisa menghormati privasi orang lain dengan cara mengetuk pintu sebelum masuk kamar.
- dan tentu saja,  orang tua harus lebih berhati-hati dan jangan lupa menguci pintu ya mom!

Semoga bermanfaat :)
0

Saturday, October 24, 2015

Punya dua anak perempuan? jangan lakukan ini ya..

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)


Gambar diambil dari sini

Memiliki dua anak perempuan yang tjantik-tjantik memiliki kebahagiaan tersendiri, selain besar pahalanya, anak perempuan bisa didandanin dan pilihan bajunya lucu-lucuu.... 
Tapi, ada tapinyaaaa..... anak perempuan memiliki sifat yang sensitif jadi ada beberapa hal yang harus dijaga dan nggak boleh dilakukan oleh orang tua ke dua anak perempuannya, cekidot ya...

Jangan membanding-bandingkan antara si kakak dan si adek
Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa mereka senang membanding-bandingkan anak, misalnya : "kok adek nggak seperti kakak sih, kakak tuh gampang ngerti kalau Bunda  ajarin" atau  "kok kakak penakut banget sih, lihat dong adek berani dan percaya diri maju ke panggung", mungkin maksud orang tua adalah ingin memberikan dukungan agar anak bisa mengikuti kakak atau adiknya yang lebih baik, tapi dengan membanding-bandingkan justru membuat anak down dan merasa orang tuanya lebih menyayangi saudaranya daripada dia.

Jangan memberi label
Kakak pinter dan adik cantik, secara umum memang terdengar wajar-wajar saja sih panggilan seperti itu, tapi sebenarnya secara tidak sadar orang tua telah melabeli anak dengan panggilan tersebut. Pada kasus anak yang peka, panggilan kakak pinter akan membuat adiknya merasa tidak akan bisa sepintar kakaknya, karena label pintar selalu melekat pada si kakak, so... bisa jadi anak menjadi minder lho moms...

Jangan menyamakan standart 
Beda anak beda bakat, setuju?? yup..!! meskipun adik dan kakak adalah saudara sedarah dan serahim, tapi mereka memiliki bakat dan kualitas yang berbeda. Jadi jangan pernah memberikan standart yang sama untuk keduanya, misalnya keduanya harus ikut kursus balet atau anak harus masuk di sekolah favorit. Sebagai orang tua, kitalah yang seharusnya paling tahu tentang bakat dan kemampuan anak-anak, jika si kakak bisa masuk ke universitas ternama, bukan berarti si adik harus masuk ke universitas yang sama pula, mungkin saja kemampuan dan bakat mereka berbeda, mereka juga memiliki kemauan, tanyakan dan akomodir keinginan mereka dengan tetap mengarahkan tanpa harus memaksakan.

Jangan selalu mewariskan barang-barang kakak ke adik
Ini dia nih hobi emak-emak irit kaya saya, dengan prinsip "kalau masih bagus kenapa nggak dipakai lagi?" . Boleh sih mewariskan barang-barang kakak yang masih layak pakai ke adiknya, tapi jangan selalu seperti itu,karena akan membuat si adik merasa mejadi penadah barang-barang bekas kakaknya, nggak adil dong kalau kakak aja yang memiliki barang-barang baru sedangkan adiknya cuma sisa-sisa?. Ada beberapa hal yang saya lakukan jika ingin membelikan barang-barang untuk anak-anak, diantaranya: jika beli baju, saya beli dua untuk adik dan kakak, jika membeli keperluan sekolah saya beli sesuai kebutuhan (adik saja atau kakak saja), jika beli mainan saya beli dua tapi jenisnya berbeda biar bisa gantian dan sharing. 

Jangan membuat persaingan yang tidak sehat
Persaingan atau kompetisi tidak sehat itu yang kaya gimana? kompetisi makan junk food gitu?? bukannnnn...! tapi persaingan yang memunculkan konflik antara keduanya. Misalnya si adik mengadu: "Bunda tadi kakak di hukum guru di sekolah karena nggak ngerjain PR", nah kita sebagai orang tua jangan menegur si kakak dengan embel-embel "kata adik, kamu bla..bla..bla..." selain tidak efektif, itu justru akan menimbulkan permusuhan diantara keduanya. Yang seharusnya dilakukan adalah ajak si kakak ngobrol, tanyakan tentang kegiatan disekolahnya, happy atau nggak? sudah mengerjakan PR atau belum? dengan ngobrol santai begitu si kakak akan bercerita dengan sendirinya dengan tanpa melibatkan si adik kedalam permasalahannya. Selain itu si adik juga tidak merasa basar hati karena telah memberikan informasi yang penting dan membuat dirinya merasa paling benar karena tidak dihukum disekolah.

Jadi yess, memang menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya, tapi kita bisa belajar menjadi orang tua yang baik karena kita juga pernah menjadi anak yang telah merasakan manis pahitnya gaya parenting orang tua kita,jadi sesuaikan saja.... ada yang mau sharing? monggo.....




7

Thursday, October 8, 2015

Yuk Bikin Sertifikat Imunisasi

Sebagai seorang ibu, tentunya harus peham benar dari a-z tentang kebutuhan anak-anak, salah satunya adalah imunisasi. Seperti yang kita tahu bahwa imunisasi dasar ada 5 atau LIL (Lima Imunisasi dasar Lengkap), nah setelah kelima imunisasi diberikan dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan pada usia 1.5- 2 tahun. Jika semua imunisasi sudah lengkap simpan buku KMS/ buku KIA baik baik karena akan menjadi salah satu syarat pembuatan sertifikat imunisasi.
Hah? sertifikat? semacam sertifikat tanah gitu? hahahah Bukan ibu-ibu, sertifikat imunisasi ini sebagai bukti bahwa anak kita sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bedanya dengan sertifikat tanah bisa digadein kalau sertifikat imunisasi enggak.. *yaiyalah
Sertifikat imunisasi ini penting lo buibu, soalnya akan menjadi syarat wajib untuk masuk sekolah. Bagi ibu-ibu yang mau ngurus sertifikat siapkan dulu persyaratannya berikut ini:
  1. Buku KIA/KMS
  2. Foto copy akte kelahiran anak
  3. Fotocopy kartu keluarga


Untuk tempat pembuatan sertifikat bisa lakukan di Puskesmas setempat, jika imunisasi tidak dilakukan di Puskesmas tidak masalah, tinggal bawa KMS atau kartu imunisasi dari bidan atau rumah sakit, jadi initinya dimanapun imunisasinya, pembuatan sertifikat busa dilakukan di Puskesms tanpa dipungut biaya alias gratis tis tis.

Contoh sertifikat imunisasi yang diambil dari sini

Pada tanggal 7 Oktober 2015 kemarin saya sengaja ambil cuti untuk mengurus sertifikat imunisasi Binar, tapi ternyata untuk anak yang lahir tahun 2013 keatas belum bisa diproses saat ini. Pelayanan pembuatan sertifikat saat ini hanyak untuk anak yang lahir tahun 2012 kebawah dan untuk anak kelahiran 2013 keatas baru bisa diproses tahun 2016 sekitar bulan Februari/Maret, kata petugasnya sih karena adanya perubahan prosedur imunisasi jadi format sertifikatnya pun berbeda. 
Gagasan pemerintah untuk mengeluarkan sertifikat imunisasi ini adalah untuk menggiatkan program imunisasi kepada para orang tua agar lebih peduli terhadap kesehatan anak-anaknya. Karena masih banyak orang tua yang kurang peduli terhadap kewajiban pemberian vaksin ini, selain karena ketidaktahuan mereka tentang pentingnya imunisasi, banyak juga yang sengaja tidak memberikan imunisasi kepada anak-anaknya karena banyak mitos-mitos seputar imunisasi. 
Saya kira, program sertifikat imunisasi ini merupakan ide cerdas pemerintah yang sedikit "memaksa" orang tua untuk lebih aware terhadap pencegahan penyakit anak-anak, mngkin selanjutnya bisa diteruskan dengan program sertifikat ASI Eksklusif selama 2 tahun, who knows......? karena pemberikan ASI Eksklusif itu tidak kalah pentingnya lho membangun daya tahan tubuh anak agar tidak mudah sakit. 
Yuk dipersiapkan dari sekarang, agar saat waktunya anak-anak masuk sekolah nanti semua persyaratannya sudah siap dan lancar. Amin
Semoga bermanfaat.... ^^

52

Monday, October 5, 2015

Ketika anak mendadak ketakutan

"Unda atut...atut..., itu atut....." kata Binar sambil melihat pojokan rumah.


Sudah bukan rahasia lagi bahwa anak kecil memang dianugerahi indera penglihatan yang cukup tajam. Anak mampu melihat "sesuatu" yang tidak dapat dilihat oleh orang dewasa, dan saya percaya bahwa ada makhluk lain selain manusia di alam ini. Di agama islam pun dijelaskan bahwa Allah menciptakan Jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepadaNya. 
Kemarin malam, tepatnya setelah isya' Binar tiba-tiba ketakutan seperti melihat sesuatu yang aneh, dia melihat ke pojok atap rumah, tapi saat saya lihat saya tidak menemukan apapun. 

Bunar : "Unda (Bunda)... atut...atut..."
Saya : "Kenapa kak? kakak takut apa?
Binar : "itu atut...."
Saya : "Nggak ada apa-apa kak, tuh lihat nggak ada apa-apa.."
Binar : "itu atut..."
Saya : "Ya sudah yuk kita berdoa aja, biar kita dilindungi oleh Allah"

Lalu saya bacakan Al fatihah dan ayat kursi, sedangkan Binar masih nyungsep di pangkuan saya. Setelah beberapa menit dia melihat ke atas lagi dan bilang: " atut ana? abis..." (taktnya mana? sudah abis/hilang)
Alhamdulillah, hati saya sudah agak tenang, meskipun jujur saya juga takuuuutttttt, saya penakut banget dan nggak mau banget nonton film horor, tapi demi anak saya berusaha berani dan tetap tenang. Saya harus berani karena seorang ibu harus melindungi anak-anaknya, alhamdulillah saya berani melawan rasa takut itu.

Gambar dari sini

Setelah kejadian itu saya semakin yakin bahwa makhluk ciptaan Tuhan memiliki tempatnya tersendiri dan kita sebagai manusia tidak boleh saling mengganggu. Perbanyak doa kepada Allah karena Allah adalah sebaik-baik pelindung dan penjaga. Berikut beberapa tips jika anak mendadak ketakutan:
  • Peluk anak agar dia merasa aman
  • Tanyakan dengan lembut kenapa dia takut
  • Yakinkan pada anak bahwa dia aman bersama kita
  • Jika dia masih ketakutan ajak dia berdoa agar anak lebih tenang
  • Jika dia melihat sesuatu (makhluk lain) maka jelaskan bahwa makhluk tersebut adalah ciptaan Tuhan dan tidak boleh saling mengganggu.
  • Doakan anak dengan doa-doa pelindung diri seperti ayat kursi dll.
  • Jika anak tiba-tiba nangis kejer nggak jelas apa maunya, tetap sabar, alihkan perhatiannya dan basuh muka, kaki dan tangannya.


Demikian beberapa tips jika bunda-bunda mengalami hal serupa dengan yang saya alami semalam, apakah bunda-bunda yang lain punya pengelaman seperti saya? share yuk....

11

Tuesday, September 29, 2015

Ojek online: menambah quality time bersama keluarga

Jakarta makin hari makin macetttt... tua di jalan deh....
Pulang kerja pengennya main sama anak, tapi apa daya nyampe rumah anak sudah ngantuk.

Hayo siapa yang ngedumel terus waktu kena macet? angkat tangan?! akuuuu..... hiks
Memang hidup dikota besar yang super duper padet seperti di Jakarta ini harus punya stok sabar berlimpah. Bagaimana tidak? waktu yang ditempuh untuk perjalanan pulang dan pergi ke kantor makin hari makin lama, otomatis waktu untuk keluarga juga semakin berkurang. Quality time yang sangat terbatasi oleh quantity time mengakibatkan waktu yang tersisa semakin tidak berkualitas karena saat sudah sampai dirumah anak sudah ngantuk dan saya pun sudah capek dan stres karena berjam-jam terjebak macet.

gambar dari sini

Tapi ternyata ada beberapa orang yang peka dengan kondisi ini dan mengambil peluang dari macetnya kota Jakarta, yup, ojek online! Ah, kalau cuma ojek sih udah ada dari jaman baheulak, tapi ojek yang satu ini beda, sistem pemesanannya via smartphone dengan aplikasi khusus ojek online. Abang ojeknya pun lebih profesional dengan tarif khusus yang telah ditentukan jadi tidak perlu melakukan tawar menawar lagi dengan penumpang. Selain itu penampilan abang ojeknya juga lebih oke, berjaket dan bersepatu serta memakai helm lengkap. Mereka pun juga di training bagaimana melayani pelanggan dengan baik, yah hampir mirip sama taxi lah, tapi taxi yang ini lebih terjangkau dan yang penting anti macettttt! yeayyy!! akhirnya ada juga solusi bagi saya untuk mengejar waktu sampai dirumah sebelum anak-anak ngantuk. Dengan ojek online ini saya bisa menghemat waktu kurang lebih satu jam perjalanan, bahkan lebih. Jika naik bus bisa memakan waktu 2 jam, kalau dengan ojek hanya sekitar 40-60 menit saja. Memang untuk biaya lebih murah jika menggunakan kendaraan umum, tapi jika selisih nya masih hitungan 10-20 ribu masih worth it lah jika dibandingkan dengan quality time dan senyum anak-anak dirumah.
Salut deh sama orang-orang yang kreatif menciptakan peluang ditengah kemacetan ibu kota, selain mendatangkan income yang lebih dari lumayan, ojek online juga membantu ratusan tukang ojek untuk menambah penghasilan mereka, dan juga tentunya ngebantu banget bagi orang-orang seperti saya yang kejar-kejaran sama waktu untuk mendapatkan quality time bersama keluarga. 
Terimakasih abang-abang ojek... terimakasih tolak macet.. *lhoo?? :D 
6