Friday, July 3, 2020
Monday, June 29, 2020
Monday, June 22, 2020
Sunday, May 31, 2020
Friday, May 29, 2020
"bunda, tas kakak tadi mana? bunda bawa ya?"
Entah kenapa kok aku tiba-tiba kepikiran buat ngisengin Binar, lalu ku jawab dengan lempeng
"Enggak, tadi kakak bawa kan? apa ketinggalan di play ground?"
dia dengan panik menjawab
"enggak bunda, kakak nggak bawa, coba lihat di depan ada apa enggak?
aku jawab iseng lagi
"nggak ada kak, apa jangan-jangan tadi jatuh?"
dan sepanjang jalan dia bingung dan khawatir, dia sediih karena tas barunya nggak ada. Mungkin sepanjang jalan dia cemas memikirkan dimana tasnya.
Lalu sesampainya di rumah, dia turun dari motor dan melihat tasnya ada di depan, di gantungan motor tertutup gamisku. Seketika tangisnya pecah
dia sediiiih dan keseeeeeel banget.
Aku nggak nyangka responnya bakal sesedih ini, kupikir kan ini cuma bercanda (jangan dicontoh ya gaes).
Lalu aku minta maaf ke dia yang masih nangis sesenggukan "maafin bunda ya kak, bunda tadi cuma bercanda"
lalu sambil terisak dia bilang
"bunda, bercanda itu harusnya bikin happy, bukan bikin sedih, itu namanya bukan bercanda, kakak nggak suka dibohongin!"
ya Allah, berasa ditabok halo balita sepaket ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
mungkin dia keseeeel banget kenapa bundanya yang dia percaya kok malah bohong ke dia, maaf ya kak.. bunda janji nggak akan ngprank lagi huhuhuhuhu
Dalem hati emaknya istighfar mulu, kok bisa-bisanya kepikiran ngerjain anak sendiri. Dari sini aku dapet insight bahwa nggak ada yang suka dikerjain, nggak ada yg suka dibohongin, apapun alasannya, apapun tujuannya.
Jadi para kakak-kakak youtuber plis jangan kasih konten tentang prank lagi ya, mungkin banyak Binar-Binar di luar sana yang merasa kesal dengan prank teman-temannya tapi nggak berani speak up karena bakal dianggap BAPER.
Sunday, November 4, 2018
- Sulit berkonsentrasi saat belajar/membaca
- Perlu beberapa kali panggilan untuk membuatnya menengok saat menonton tv
- Mudah marah saat gadget rusak/loadingnya lama
- Lebih suka main dengan gadgetnya daripada main di luar bersama teman-teman
- Gampang sekali bosan dengan mainan yang tidak bergerak
- Tidak suka menunggu proses/tidak sabaran
- Mudah frustasi saat mainannya rusak
- Akan sangat rewel jika bepergian tanpa membawa gadget
- Mata merah dan berair
- Mengalami keterlambatan bicara karena sering menonton tv karena tidak ada komunikasi 2 arah
Jika ada 3 saja gejala diatas yang terdapat pada anak-anak kita, sebaiknya segera kurangi pemakaian gadget/tv. Alihkan ke hal lain seperti olahraga, explore lingkungan atau membaca buku.
Parents, kendali ada ditangan kita dan kita lah yang memilih.
~ Fitrina Kamalia
Saturday, November 3, 2018
Wujudku ada tapi tak bisa mengobati rasa sepinya
Ini yang aku takutkan...
Aku ada disampingnya tapi aku hanya sibuk dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya
Ini yang aku takutkan...
Dia punya ibu tapi tak punya figur hangat yang punya waktu untuk bermain bersamanya.
Ini yang aku takutkan...
Saat mataku terfokus pada layar hp saja, sedangkan disaat yang sama anak-anak sedang menunjukkan hasil karya mereka, dan akupun melewatkannya begitu saja.
Ini yang aku takutkan...
Tenagaku yang habis terkuras untuk bekerja membuat emosiku mudah tersulut oleh rengekan manjanya.
Dan satu hal yang paling aku takutkan...
Saat aku menyadari, jika aku tak bisa berubah mungkin saja suatu saat kehadiranku tak kan lagi diharapkannya.
~ Fitrina Kamalia
Wednesday, October 31, 2018
Mungkin karena aku tak menemukan sosoknya dalam kehidupanku, sehingga tak ada bayangan yang jelas bagaimana rasanya jatuh cinta pada lelaki yang harusnya menjadi cinta pertamaku.
Atau mungkin karena aku tak ingin membuat ibuku bersedih dengan terus menanyakannya, sehingga seribu tanya kusimpan rapat dalam hati kecilku saja.
Ya, karena aku menyimpannya, dalaaam sekali, sampai-sampai aku tak pernah menyebutnya, dan aku pura-pura bahagia. Aku bahagia memiliki ibu saja, tapi sebenarnya aku sadar, itu hanya kalimat penghibur untuk hati gadis kecil yang lara.
Bukankah, seharusnya aku punya ayah? seperti anak kecil lain yang bahagia dengan setumpuk cerita tentang ayahnya, yang pergi jalan-jalan dengan dibonceng motor keliling kota, atau sekedar mereparasi sepedah yang lepas rantainya.
Iya, aku selalu sedih setiap kali membetulkan rantai sepedahku yang lepas, aku iri kenapa tidak ada sesosok laki-laki yang membantuku mereparasi, seperti anak perempuan lain yang tinggal tunjuk dan bilang "ayah, sepedah ku rusak, tolong diperbaiki".
Seharusnya semua anak perempuan punya ayah, yang menjadi tempat mengadu saat ada anak laki-laki nakal yang mengusili, yang menjadi rujukan bagaimana seharusnya seorang laki-laki, agar anak perempuannya memiliki figur dalam memilih suami.
Dan aku lagi-lagi diam, berusaha memendam dalam semua aduan, menyimpan sendiri ditempat paling sunyi di dalam diri. Melewati masa remaja dengan cukup berat karena tak memiliki konsep laki-laki dan perempuan secara tepat, tumbuh menjadi gadis tomboy tapi rapuh, menjadi pribadi yang dominan tapi cengeng.
Pun, semua anak laki-laki harusnya memiliki ayah, tempat mereka belajar bagaimana cara mengganti ban mobil sampai dengan apa saja tanggung jawab yang harus mereka ambil. Agar sang anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang kuat, memiliki sikap dan tahu bagaimana memperlakukan istri dan dan anak.
Bukankah banyak sekali para laki-laki yang kebingungan dalam mencari jati diri, bertingkah bak pragawati sampai pada melencengnya orientasi.
Yaaa, seharusnya semua anak memiliki ayah, agar anak bisa tumbuh sesuai dengan fitrahnya, menjadi pribadi yang seimbang dan tak rancu dalam pembagian peran.
Memiliki ayah bukan hanya cukup dengan wujudnya, yang setiap hari ada disisi kita, tapi yang lebih penting adalah perannya, menjadi panutan sekaligus teman, dan menjadi super hero yang siap memberikan perlindungan.
Tapi mungkin Allah terlalu sayang dengan ayah, sehingga memanggilnya lebih cepat, dan mungkin juga benar bahwa "Good man dies young".
Aku sangat menghormati dan mengapresiasi keputusan ibu untuk memilih menjadi single parent, memilih fokus untuk membesarkan anak-anaknya meskipun tak mudah. Tapi aku juga sadar bahwa masih ada luka yang menganga, masih ada kerinduan yang tak tersapa dan masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi, ya... Dialah sosok seorang ayah bagi keempat anak-anaknya.
Wahai para ibu hebat, menjadi single parent memang tak pernah diimpikan oleh setiap perempuan, tapi kadang pernikahan memang tak seindah angan. Tapi, jika kesendirianmu merupakan pilihan, janganlah menutup hati untuk pernikahan lain yang lebih membahagiakan. Karena ada hati yang harus kau jaga, ada kebutuhan sosok ayah yang harus kau penuhi, agar anak-anakmu tumbuh menjadi manusia yang sempurna.
Bukannya aku mengajari untuk tak setia, bukan pula menodai syakralnya cinta pada pernikahan, tapi sekali lagi, ada kewajiban yang harus ditunaikan, mendidik anak secara utuh agar mereka tak pincang dan yang terpenting ada kebutuhan cinta seorang ayah yang terpenuhkan.
~ Fitrina Kamalia
Sunday, October 28, 2018
"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "
"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"
"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"
***
Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...
Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.
Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..
Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.
Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.
Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.
Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.
Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"
"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.
Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.
Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..
Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..
Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "
Maafkan bunda nak.. 😧😧
*hening
~Fitrina Kamalia"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"
"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "
"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"
"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"
***
Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...
Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.
Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..
Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.
Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.
Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.
Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.
Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"
"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.
Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.
Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..
Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..
Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "
Maafkan bunda nak.. 😧😧
*hening
~Fitrina Kamalia"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"
"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "
"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"
"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"
***
Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...
Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.
Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..
Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.
Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.
Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.
Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.
Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"
"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.
Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.
Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..
Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..
Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "
Maafkan bunda nak.. 😧😧
*hening
~Fitrina Kamalia"Kak, duduknya yang anteng dong, yang sopan kalau dirumah orang"
"Kak, kok adiknya digigit sih? Adiknya kan nggak salah apa-apa? "
"Binaaar, ayo beresin mainannya sekarang, belajar tanggung jawab dan jadi contoh yang baik untuk adik"
"Kakak, jangan ngompol lagi dong, kakak kan udah gede, ke toilet ya pipisnya"
***
Jujur, saya ngetik kalimat-kalimat diatas seperti menghantam diri saya sendiri dengan batu, menyakitkan dan mata saya pun basah...
Ya.. Itu adalah kesalahan yang selalu saya sesali, cara saya memperlakukan makhluk kecil ini seperti saya memperlakukan diri saya sendiri, sebagai orang dewasa yang paham dengan perannya.
Tapi ternyata saya lupa, bahwa dia hanyalah bocah balita yang memiliki energi berlebih, yang dia sendiri tak tau bagaimana harus menghabiskannya..
Dia yang punya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Dan ketika kita tak paham yang dia maksudkan, dia mengalihkannya dengan tangisan, gigitan dan pukulan, lalu.. dengan tanpa beban kita menyebutnya dengan "kenakalan", yang membuatnya terlihat seperti raja kecil pembuat keonaran.
Dia yang masih memerlukan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tapi harus berbagi pelukan dengan adiknya, dibebankan tanggung jawab sebagai seorang kakak, kakak yang harus bersikap baik dan mandiri, tanpa peduli berapapun usianya.
Dia yang masih bertumbuh belum sempurna, jangankan untuk menahan pipis, mengontrol tangannya untuk menyuap makanan ke mulutnyapun kadang masih belepotan, tapi dia tetap berusaha.
Ya Allah, betapa egoisnya kami...
Memandang tubuh kecil ini dengan kaca mata dewasa, memperlakukannya tanpa memandang bilangan usia, dan membebaninya dengan tanggung jawab yang tak semestinya.
Mungkin, jika dia dapat mengatakannya, dia akan berkata"
"Bunda, aku tidak tau harus bagaimana, tubuhku terus saja ingin bergerak, karena aku merasa semangat sekali.
Bunda, maafkan aku yang tak bisa menunjukkan rasa kesalku dengan benar, sehingga membuatmu selalu marah dan sedih.
Dan bunda, sebenarnya aku juga ingin menjadi kakak yang baik untuk adik, tapi entah kenapa aku juga merasa ingin diperhatikan olehmu, di timang sepertinya, pasti sangat menyenangkan..
Maafkan aku bunda, saat aku berusaha menahan pipisku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba celanaku menjadi basah, dan akhirnya membuatmu marah, tapi aku sudah berusaha bunda..
Tapi bunda, bunda harus tahu bahwa aku menyayangimu, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menjadi seperti maumu.. berikan aku waktu bunda, semoga engkau masih memiliki kesabaran untuk menunggunya.. "
Maafkan bunda nak.. 😧😧
*hening
~Fitrina Kamalia
Friday, October 26, 2018
Saat pengasuhnya bilang " gimana muka galak dek? "
Dengan sigap dia menajamkan mata sambil agak menunduk, melihat ke arah saya sambil "mentheleng" . Hahaha
Meskipun lucu, tapi saya yakin ada something wrong dari sikap saya.
Hampir saja saya spontan mau nanya ke Radea siapa yang ngajarin dek?
Tapi sebelum saya sempet nanya saya langsung mikir, kalau bukan dari saya, dari siapa lagi dia menirunya?
Saya coba mengingat-ingat, pernah saat gigi atasnya tumbuh, dia memang hobi banget menggigit, karena mungkin gusinya sedang gatal.
Dan beberapa kali dia menggingit saya saat sedang menyusui, sekali saya bilangin pelan-pelan, kedua masih tahan, sampai ketiga saya agak marah sambil menegurnya "adek, nggak boleh gigit, bunda sakit", tapi saat itu saya tidak sadar bagaimana ekspresi marah saya.
Dan benar saja, anak memang sang peniru ulung! Dengan mudahnya dia meniru segala hal yang orang tuanya lakukan, ekspresi wajah, cara berbicara, cara makan, sampai dengan cara berfikir.
Lalu, saat anak sedang melakukan hal yang kita anggap "nakal" dengan entengnya kita nanya "siapa sih yang ngajarin?" itu sih namanya buruk rupa cermin dibelah cyyn..
Kalau kita mau sebentar saya memikirkan, apa yang salah dengan sikap saya? Apa yang salah dengan perkataan saya? Apa yang salah dengan cara mendidik saya? Mungkin tidak akan ada drama emak yang marah-marah dan anak nangis sesenggukan.
Seperti halnya saat foto selfie, saat melihat hasilnya kok kurang bagus, oh ternyata setelah di cek ternyata jilbabnya agak miring, angelnya nggak pas, senyumnya kurang manis dsb, benerin dulu jilbabnya, benerin dulu posisinya, bukannya malah memaki-maki hp karena hasilnya nggak sesuai ekspektasi kan?
Begitu pula dengan anak, saat dia melakukan kesalahan kecil, mungkin dia tidak sadar bahwa ia hanya "ikut-ikutan",
ngikutin siapa? Ya orang-orang disekitarnya, kita... Orang tuanya..
Makanya saya setuju banget, bahwa menjadi orang tua itu bukan hanya soal bagaimana membentuk karekter anak yang baik dengan belajar ilmu parenting segala madzhab, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membenahi diri menjadi lebih baik untuk menjadi contoh figur yang baik untuk anak-anak.
Taukah ibu...
Seorang anak perempuan yang memiliki ayah yang hebat akan mencari calon suami yang mirip dengan ayahnya, atau minimal dia akan memiliki standar lelaki ideal seperti ayahnya.
Begitu juga anak laki-laki, saat memilih istri dia akan memilih kriteria perempuan yang mirip dengan ibunya.
See? Betapa besar peran kita dalam membentuk karakternya, betapa besar kita berpengaruh dalam kehidupannya.
Mendidik dengan memberi contoh yang baik akan jaaaauh lebih efektif daripada mengomel dan menasehati panjang lebar.
Karena mata akan lebih cepat melihat seperti halnya petir yang lebih dahulu bercahaya sebelum terdengar gelegar suaranya meskipun keduanya terjadi bersamaan
Thursday, October 25, 2018
Bu, dulu aku sangat risih saat ibu terus saja menyuruhku makan karena khawatir aku sakit jika makanku tak teratur.
Tapi sekarang aku baru tau rasanya kekhawatiranmu, saat aku mengahdapi anakku yang selalu menolak saat kusuapi.
Bu, dulu aku jengkel saat ibu selalu menanyakan sudahkah aku sholat tepat waktu.
Padahal ibu hanya memastikan bahwa ilmu agama yang kau bekalkan terus tertanam di hati dan perilaku ku.
Bu, dulu kupikir ibu tidak menyayangiku saat menyuruhku untuk melakukan apapun sendiri tanpa kau bantu. Ternyata diam diam ibu ingin melatih agar aku tidak manja dan bisa survive dengan kemandirianku.
Dan lagi-lagi ibu benar, hidup berumahtangga jauh darimu menuntutku untuk mandiri dan multitalenta. Tak bisa kubayangkan betapa sulitnya kehidupanku saat ini jika dulu aku hanya bisa merajuk dan mengandalkanmu.
Bu, dulu aku marah saat ibu ingin tahu dengan siapa saja aku berteman,
Tapi sekarang aku tahu itulah caramu melindungiku dari pengaruh buruk lingkungan yang merusakku, seperti saat ini aku melindungi anak-anakku dari pengaruh zaman yang semakin gila.
Bu, saat aku sudah menikah pun ibu masih bertanya apakah aku sudah makan atau belum?
Karena sebarapa banyakpun bilangan umur anakmu ini, aku tetap menjadi gadis kecilmu.
Dan bu..
Ternyata semua yang ibu katakan itu benar..
Dan aku baru menyadarinya saat aku telah menjadi orang tua
Rasa lelahmu saat mengadung
Rasa sakitmu saat melahirkan
Rasa ngantukmu saat aku rewel
Rasa cemasmu saat aku sakit
Rasa kecewamu saat aku berbohong
Rasa banggamu saat aku berani tampil di depan kelas
Rasa sayangmu yang tak pernah kunjung habis meskipun aku pergi dari rumah untuk membina keluarga bersama orang yang kupilih.
Ibu, sekarang aku tau semuanya...
Dan aku semakin mencintaimu...
Maafkan aku bu..
Monday, July 10, 2017
Wednesday, August 10, 2016
- anak marah kepada orang tua karena belum paham tentang konsep hubungan suami istri
- anak merasa jijik karena melihat sesuatu yang bertentangan dengan value yang diajarkan kepadanya
- anak menjadi penasaran, ingin tahu dan ingin mencoba, ini yang berbahaya!
- anak menjadi kehilangan konsentrasi karena ingatan tentang hubungan intim tersebut mengacaukan pikirannya.
- jika anak melihat hubungan intim pada usia diatas 3 tahun, maka besar kemungkinan dia akan teringat kejadian itu sepanjang hidupnya.
- jika anak memergoki ayah dan ibu berhubungan intim, yang terpenting adalah jangan panik.
- jelaskan pada anak bahwa ayah dan ibu perlu waktu untuk berdua saja, nanti ibu dan ayah akan menyusul lagi ke kamar.
- katakan pada anak: "sayang, maaf ya kalau ayah dan ibu tadi membuatmu takut, ibu tidak apa-apa kok"
- jika anak bertanya tentang apa yang sedang dilakukan, maka sebaiknya dijawab bahwa karena ayah sayang sama ibu, makanya ayah peluk ibu, jika anak sudah cukup puas dengan jawabannya maka cukupkan penjelasan. Jika anak masih bertanya lagi "kenapa tidak pakai baju? ", maka jelaskan bahwa ayah sayang sama ibu, ayah dan ibu tidak pakai baju karena agar ibu dekat sama ayah, dan itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa, oleh ayah dan ibu yang sudah menikah. Meskipun pada usianya belum tahu konsep menikah, tapi setidaknya dia akan terus mengingat bahwa hubungan intim yang dilihatnya itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang sudah menikah, insyaAllah dia akan paham pada waktunya.
- jangan memberikan jawaban bohong pada anak, misalnya ayah lagi main kuda-kudaan, atau ayah dan ibu lagi kegerahan makanya buka baju, mungkin itu akan menjadi solusi sementara untuk orang tua, tapi tidak untuk solusi jangka panjang, karena anak akan terus mengingat kejadian ini.
- ajarkan anak untuk bisa menghormati privasi orang lain dengan cara mengetuk pintu sebelum masuk kamar.
- dan tentu saja, orang tua harus lebih berhati-hati dan jangan lupa menguci pintu ya mom!
Saturday, October 24, 2015
Thursday, October 8, 2015
- Buku KIA/KMS
- Foto copy akte kelahiran anak
- Fotocopy kartu keluarga
Monday, October 5, 2015
- Peluk anak agar dia merasa aman
- Tanyakan dengan lembut kenapa dia takut
- Yakinkan pada anak bahwa dia aman bersama kita
- Jika dia masih ketakutan ajak dia berdoa agar anak lebih tenang
- Jika dia melihat sesuatu (makhluk lain) maka jelaskan bahwa makhluk tersebut adalah ciptaan Tuhan dan tidak boleh saling mengganggu.
- Doakan anak dengan doa-doa pelindung diri seperti ayat kursi dll.
- Jika anak tiba-tiba nangis kejer nggak jelas apa maunya, tetap sabar, alihkan perhatiannya dan basuh muka, kaki dan tangannya.
















